Minggu, 22 Desember 2019


Sejarah Dibalik Birunya Air Telaga Cisoka



Assalammualikum wr wb

      Hallo, Kawan semua nya sekian lama kita tidak berjumpa ya hehehe..., kali ini saya mau share lagi nih, tentang sejarah - sejarah yang ada di pulau jawa,tertunya Kota Tangerang, Banten, jawa barat. Siapa sih yang tidak tahu Kota Tangerang, Banten ini ?
   
      Kota Tangerang adalah sebuah kota yang terletak di Provinsi Banten. Kota ini terletak tepat di sebelah barat ibu kota negara Indonesia, Jakarta. Kota Tangerang berbatasan dengan Kabupaten Tangerang. di sebelah utara dan barat, Kota Tangerang Selatan. di sebelah selatan, serta Daerah Khusus Ibukota Jakarta.di sebelah timur. Tangerang merupakan kota terbesar di Provinsi Banten serta ketiga terbesar di kawasan Jabodetabek setelah Jakarta dan Bekasi di provinsi Jawa Barat. dan dilalui oleh Jalan Nasional 

       Kali ini saya akan membasas keindahan salah satu wisata di tangerang yaitu Telaga Biru Cisoka.
Bibalik Keindahan nya Wisata yang satu ini Punya sejarah di balik biru nya air telaganya.

       Telaga Biru Cisoka, Tengerang mendadak jadi magnet tersendiri bagi wisatawan. Yang bikin tempat ini istimewa karena terdapat tiga telaga dengan warna dan kedalaman berbeda. Begitu Indah.
Saat datang ke tempat ini, Anda bisa menemui telaga dengan air hijau jernih dengan kedalaman lima meter.Telaga kedua, kecantikannya juga luar biasa. Warnanya biru, begitu jernih dan bersih dengan kedalaman 15 meter. Dan telaga ketiga, dalamnya 20 meter.

     Di balik keindahan telaga ini, ada kisah di balik birunya air telaga. Menurut salah seorang  pengelola Telaga Biru Cisoka, Andi, telaga ini bukanlah telaga yang terbentuk secara alami, namun awalnya terbentuk dari sisa penggalian pasir.
"Telaga Biru Cisoka ini awalnya terbentuk dari bekas galian pasir pada tahun 1999-2005 namun karena proses alam membuat bekas penggalian pasir tersebut mulai digenangi oleh air, dan membentuk tiga telaga dengan kedalaman yang berbeda," telaga saat ditemui oleh

       Teman saya juga bercerita, awalnya telaga ini tidak memiliki warna biru yang jernih seperti sekarang ini. Dulu, airnya terlihat sangat keruh. Namun seiring dengan berjalannya waktu, telaga ini mengalami perubahan warna, menjadi bersih, bening, dan berwarna biru.

        Tapi anehnya, pada salah satu telaga, awalnya memiliki warna biru kini berubah menjadi warna hijau dengan sendirinya.
Melihat pemandangan indah yang ditampilkan oleh telaga biru tersebut, membuat para warga Cisoka akhirnya memutuskan untuk menjadikannya sebagai tempat wisata pada mei 2015. Telaga Biru Cisoka dengan keseluruhan luas 4 hektar ini juga dimanfaatkan para warga sekitar sebagai lahan bisnis kecil-kecilan dengan membuka beberapa kedai kopi, sebagai tempat bersantai para wisatawan yang datang.
"Saat ini Telaga Biru Cisoka masih dalam tahap perkembangan. Nantinya akan ada wahana permainan air dengan tema pantai buatan melengkapi wisata alam ini. Juga akan hadir lebih banyak tempat makan, dan souvenir khas Cisoka," ucapnya.
Andi juga mengatakan saat ini telaga ini dikelola bekerjasama dengan pemerintah setempat agar wisatawan yang datang merasa nyaman.
"Ada rencana akan ada sebuah bus wisata yang mengantarkan para wisatawan yang datang dari Stasiun Tigaraksa menuju ke sini," ucapnya.

SEJARAH LENGKAP
telaga ini berasal dari sebuah penambangan yang dlakukan pada tahun 1999 hingga tahun 2019. Kemudian, ditinggalkan dan tidak terurus lagi. Bekas galian ini membentuk sebuah cekungan yang cukup besar. Akibat curah hujan yang cukup tinggi, akhirnya cekungan ini terisi oleh air.
Semakin hari, semain banyak air yang memenuhi cekungan sehingga menjadi danau. Kurang lebih ada 3 bekas galian pasir yang bisa dilihat di kawasan ini uniknya lagi, warna air bukanlah biru seperti yang dilihat saat ini melainkan, keruh dan kotor. Seiring berjalannya waktu partikel-partikel yang membuat keruh tersebut tenggelam.
Setelah partikel ini tenggelam, warna air di telaga ini berubah menjadi biru. Bukan karena sebuah mitos dan misteri melainkan karena faktor alam yaitu tingkat keasaaman telaga ini begitu tinggu. Sama halnya dengan tingkat keasaaman di wilayah gunung Ijen Banyuwangi yang juga sangat tinggi.
Selain tingkat asamnya, ternyata telaga ini pun memiliki alga atau tanaman air yang terbukti ampuh mampu merubah warna air. Apalagi, saat terkena sinar matahari. Warna air ini pasti berubah sesuai dengan warna dari alga tersebut.
Jumlah telaga disini ada 3, dimana memiliki kedalaman yang berbeda-beda. Telaga pertama dengan kedalaman 5 meter. Telaga inilah yang akan menyambut Sobat Native. Dengan warnanya yang biru kehijauan. Kemudian, telaga ke dua memiliki kedalaman sekitar 15 meter. Kemudian, Telaga ketiga memiliki kedalaman sekitar 20 meter.

Apa yang Menarik?

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah apa yang menarik dari telaga bekas penambangan pasir ini. Keindahannya berada di air telaga yang sangat mencolok. Dimana, sobat Native bisa melihat warna air ini biru tetapi, juga bisa berubah menjadi hijau. Warna ini yang dianggap warga bila kawasan ini cukup angker.
Tetapi, bila dilihat dari ilmu alami. Perubahan warna ini memang didasarkan karena tingkat asam dan alga seperti yang sudah disebutkan diatas. Jadi, kehadiran asam yang tinggi ini bisa dijadikan sebagai peringatan bagi Sobat Native agar berhati-hati. Bisa-bisa kulit Sobat Native terluka.
Apabila, dilihat lebih dalam. Rasanya tidak mungkin, keindahan telaga ini terbentuk dari sebuah galian pasir. Airnya yang begitu jernih, apalagi, saat Sobat Native mengambil sudut foto dan gambar yang pas. Pasti akan menipu setiap orang yang melihatnya.
Sobat native akan disambut dengan dua telaga langsung. Dimana, telaga pertama memiliki latar belakang tebing pasir yang mengesankan. Telaga yang kedua airnya sedikit berwarna putih. Penyambutan yang cukup menarik diantara dua sisi saat Sobat native datang. Keindahan yang tersaji ini benar-benar melelehkan mata.
Semua wisatawan pun akan geram dan gemes untuk segera melakukan aksi dan bergaya dengan berbagai macam pose. Hanya saja, saat siang hari, kawasan ini akan sangat terik sekali, dan terlihat sangat gersang. Disarankan, Sobat native datang ke tempat ini pada sore hari atau pagi hari, dimana sinar matahari masih tampak malu-malu.
Ada begitu banyak spot foto yang sudah tersedia disini. Spot kekinian ini memang menjadi salah satu daya tarik yang tidak bisa terhindarkan. Apalagi, dengan latar belakang pepohonan yang hijau, menambah keindahan kawasan ini.
Sobat Native pun bisa mengelilingi danau ini dengan menyewa perahu yang sudah disediakan oleh pihak pengelola. Harga sewa perahu ini cukup murah hanya dengan 20 ribu saja. Sobat native bisa menikmati aksi romantis bersama dengan orang yang dicintai. Dengan perahu ini, sobat native bisa membawanya menuju ke titik-titik instagramable.
Mau bersantai saja menikmati hari dengan secangkir kopi? Kawasan ini sudah tersedia gubuk kopi yang menyediakan berbagai macam jenis kopi dengan cita rasa yang cukup nikmat. Ada pula para petugas dengan seragam pink yang cukup ramah, yang akan menyapa Sobat native.
Hal yang menarik yang bisa dirasakan di tempat ini adalah nuansa pedesaan yang akan sangat terasa. Teduh, tenang dan terbebas dari hiruk pikuk perkotaan. Berada disini akan membuat Sobat Native fresh dan mampu melepas penat serta tuntutan pekerjaan yang menumpuk.

Alamat Dan Rute Lokasi

Alamat kawasan ini berada di jalan cigaru cisoka, Desa Sukatani, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Ada dua alternatif yang bisa ditempuh Sobat Native. Bisa naik transportasi umum bisa juga naik kendaraan pribadi.
Sobat Native yang memilih untuk naik kendaraan pribadi, Sobat Native bisa mulai dari Pusat Kota Tangerang. Arahkan kendaraan menuju ke Jalan Pemda Tigareksa. Saat Sobat Native masuk di bunderan tigaraksa, arahkan kendaraan menuju ke Cisoka dengan belok kearah kanan.
7km dari sini ada papan nama SMPN 1 Cisoka lalu, belok ke kiri. Setelah belok ke kiri, Sobat Native akan sampai di tempat ini dengan menempuh 2 km lagi. Jarak yang cukup jauh memang tetapi, semua akan terbayarkan bila sudah sampai di kawasan ini melihat keindahan yang ditawarkan.
Alternatif kedua adalah naik Transportasi umum. Sobat Native bisa naik kereta api terlebih dahulu dengan naik KRL dari Stasiun Tanah Abang –Maja. Kemudian turun di Stasiun Tigaraksa. Lanjutkan, perjalanan dengan menggunakan angkutan umum dengan jurusan Adiyasa – Balaraja. Hanya saja, untuk meraih angkot ini, Sobat Native harus berjalan terlebih dahulu sekitar 300 meter.
Bilang kepada sopir angkot untuk turun di pertigaan gang SMAN 08 Cisoka. Sampai di depan gang, Sobat Native bisa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki atau memilih untuk naik ojek yang juga sudah tersedia di tempat ini.

Harga Tiket Masuk

Untuk harga tiket masuk, kawasan ini tidak menerapkan harga tiket. Tetapi, Sobat Native yang membawa kendaraan pribadi harus merogoh kocek lebih dalam. Dimana, biaya parkir untuk mobil ditarik 10 ribu rupiah. Untuk motor ditarik 5 ribu rupiah.
Jam operasional kawasan ini buka dari pukul 7 pagi hingga pukul 6 sore. Waktu yang cukup panjang untuk Sobat Native menikmati kawasan yang sepertinya tampak sangat sempurna.
Telaga Cisoka, Tangerang adalah kawasan wisata yang dimiliki oleh provinsi Banten. Dengan berbagai macam spot foto membuat semua orang pun pasti akan tergoda untuk datang ke kawasan ini. Jika, mereka sudah kesini. Kapan sobat Native akan pergi kesini? 

Baik terimakasih atas perhatian nya semoga bermanfaat, dan jangan lupa komentar 
di bawah kolom yang tertera ya, dan bantu share ke sosial media kalian ya, biar 
temen kalian jadi tau dan menambah wawasan. Hatur Thaks you 


Sabtu, 17 Agustus 2019

PENGALAMAN DARI NEGARA SOVAKIA


       Lokasi Kota Tua Jakarta,walking part 2 bersama hans jalan-jalan dengan teman baru dari sovakia,negara tercinta kita indonesia,beragam budaya dan sangat lah luas,tpi tetap kita jangan membedakan antara suku dan siapa kita,bersatu dan menjadi teman,seperti saudara kita/teman kita yang dari sovakia ini.

            kami bertemu dia dua minggu kebelakang,bersama teman teman dari SBC ART, seru dan menyenang kan,juga shareing tentang pengalaman mereka dan kami saat touring,banyak yang kami obrolkan.dan di hari itu kami mendapat sebuah pengalaman baru dari mereka.

nanti kan cerita selanjutnya,dan kunjungi youtube kami di :
https://www.youtube.com/watch?v=GTpbs5W9OZ8
https://www.youtube.com/watch?v=NovKVxT7vrk
https://www.youtube.com/watch?v=unILQ4AtxPM

jangan lupa bantu SUBSCRIBE,LIKE dan SHARE ke teman teman atau sosmed lain nya  .......bye sampai jumpa....

Kamis, 15 Agustus 2019

Sejarah Kota Tua Jakarta


Sejarah Kota Tua Jakarta

            Museum Fatahillah memiliki nama resmi Museum Sejarah Jakarta adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 1, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi. Bangunan ini dahulu merupakan balai kota Batavia yang dibangun pada tahun 1707-1712 atas perintah Gubernur-Jendral Joan van Hoorn.
Kota Tua Jakarta terletak diantara dua kotamadya yaitu Jakarta Barat dan Jakarta Utara, tepatnya di Kelurahan Pinangsia Kecamatan Tamansari. Posisinya yang strategis membuatnya mudah disinggahi kala itu. Bahkan berbagai kerajaan turut memperebutkan kekuasaan di kawasan ini. Berikut ini adalah ulasan mengenai sejarah Kota Tua Jakarta dari masa ke masa. Kota Tua Jakarta adalah nama dari sebuah gedung yang tepatnya berada di Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Tamansari, Kotamadya Jakarta Barat. Letak gedung ini berbatasan dengan beberapa tempat strategis diantaranya :
§                       Sebelah utara, berbatasan dengan Pelabuhan Sunda Kelapa dan Laut Jawa
§                       Sebelah Timur, berbatasan dengan Kali Ciliwung
§                       Sebelah Barat, berbatasan dengan Kali Krukut
§                       Sebelah Selatan, berbatasan dengan Jalan Jembatan Batu 


Perkembangan Kota Tua Jakarta
       Sejarah Kota Tua berawal pada abad ke 15 tepatnya tahun 1526 saat Fatahillah melakukan penyerangan terhadap Kerajaan Hindu Pajajaran. Penyerangan tersebut terjadi tepat di Pelabuhan Sunda Kelapa atas perintah dari Kesultanan Demak. Wilayah ini  memiliki luas 15 ha, dengan tata ruang mengadopsi kebudayaan Jawa. Selanjutnya, wilayah ini diberi nama Jayakarta, bahkan diklaim menjadi cikal bakal kota terbesar di Indonesia ini.
1.          Tahun 1635 kota Batavia mengalami perluasan hingga ke bagian barat dari sungai Ciliwung. Dengan arsitektur bergaya Belanda dilengkapi dengan Benteng Kasteel khas Batavia, kanal dan dinding kota, Batavia semakin memukau saat itu)

2.                 Abad ke 16 tepat pada tahun 1619, menjadi target VOC dibawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen. Beberapa waktu kemudian tepatnya pada tahun 1620 Jayakarta resmi berganti nama menjadi Batavia. Nama tersebut diberikan guna menghormati leluhur bangsa Belanda yang bernama Batavieren. Kota Batavia berpusat di sebelah timur Sungai Cilwung yang saat ini dikenal dengan Lapangan Fatahillah. Batavia memiliki penduduk lokalnya yang sampai sekarang masih eksis yaitu suku Betawi, yang dulunya disebuut sebagai Batavianen. Betawi berasal dari berbagai etnis khususnya etnis kreol yang menghuni pemukiman Batavia kala itu.

3.        Pada awalnya maksud kedatangan para saudagar ini adalah menukar rempah-rempah, namun ternyata berubah menjadi pengalihan kekuasaan saat hubungan kurang baik terjadi antara Belanda dengan Jayawikarta.

4.            Kemenangan Demak yang kemudian mengubah nama menjadi Jayakarta kemudian memasuki ranah baru yaitu menjadi bagian dari Kesultanan Banten. Dibawah kekuasaan Kasultanan Banten Jayakarta menjadi kota tujuan para saudagar dari Belanda khususnya yang berada dibawah pimpinan Cournelis de Houtman.

5.             Pada awalnya lokasi ini dikenal sebagai dermaga Sunda dengan letaknya yang sangat strategis serta makmur. Apalagi di dermaga ini merupakan tempat yang sangat tepat untuk penjualan rempah-rempah khas Sunda yang memang masyarakatnya bekerja sebagai petani rempah. Pada abad ke 14 pelabuhan ini dianggap sebagai pelabuhan penting bagi beberapa kerajaan di nusantara. Bahkan terdengar bahwa bangsa Portugis ingin menguasai wilayah ini, hingga hal tersebut didengar oleh Kerajaan Demak yang mengirimkan Fatahillah mencegah kekuasaan Portugis saat itu.
6.                 Pada Tahun 1650, kota Batavia dijadikan sebagai pusat pemerintahan oleh VOC dan mengalami lagi perluasan menuju selatan setelah munculnya wabah tropis akibat sanitasi yang buruk.

7.             Pada tahun 1870 perluasan tersebut memaksa sebagian warganya keluar dari kota kecil tersebut dan berpindah ke kawasan Weltevreden yang saat ini dikenal dengan lapangan Merdeka. Pada tahun ini pula Batavia menjadi kawasan pusat pemerintahan Hindia Timur Belanda.
8.              Tahun 1942 dibawah kepemimpinan Jepang, Batavia berganti nama menjadi Jakarta hingga saat ini dan dijadikan sebagai ibu kota Indonesia. )

9.              Kota Tua Jakarta resmi dijadikan sebagai situs warisan pada dekrit yang dikeluarkan Gubernur Jakarta pada masa itu Ali Sadikin. Dengan adanya keputusan tersebut maka bangunan serta arsitektur dari Kota Tua Jakarta wajib dipertahankan.

 
 Sekilas cerita : di sini lah kami bertemu kawan lama kita kane dan cony kita sudah lama
                             tidak bertemu dan akhirnya tuhan mempertemukan kami semua dengan
                             sepasang adik kakak ini,mereka datang dari negri england. 

                             ikuti terus petualangan kami selanjutnya ya ????