Sejarah
Kota Tua Jakarta
Museum Fatahillah memiliki nama resmi Museum
Sejarah Jakarta adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah
No. 1, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi. Bangunan ini
dahulu merupakan balai kota Batavia yang dibangun pada tahun 1707-1712 atas
perintah Gubernur-Jendral Joan van Hoorn.
Kota Tua Jakarta terletak diantara dua kotamadya yaitu Jakarta Barat dan
Jakarta Utara, tepatnya di Kelurahan Pinangsia Kecamatan Tamansari. Posisinya
yang strategis membuatnya mudah disinggahi kala itu. Bahkan berbagai kerajaan
turut memperebutkan kekuasaan di kawasan ini. Berikut ini adalah ulasan
mengenai sejarah Kota Tua Jakarta dari masa ke masa. Kota Tua Jakarta adalah
nama dari sebuah gedung yang tepatnya berada di Kelurahan Pinangsia, Kecamatan
Tamansari, Kotamadya Jakarta Barat. Letak gedung ini berbatasan dengan beberapa
tempat strategis diantaranya :
§ Sebelah utara, berbatasan dengan Pelabuhan Sunda Kelapa dan Laut Jawa
§ Sebelah Timur, berbatasan dengan Kali Ciliwung
§ Sebelah Barat, berbatasan dengan Kali Krukut
§ Sebelah Selatan, berbatasan dengan Jalan Jembatan Batu
Perkembangan Kota Tua
Jakarta
Sejarah Kota Tua berawal pada abad ke 15 tepatnya tahun 1526 saat
Fatahillah melakukan penyerangan terhadap Kerajaan Hindu Pajajaran. Penyerangan
tersebut terjadi tepat di Pelabuhan Sunda Kelapa atas perintah dari Kesultanan
Demak. Wilayah ini memiliki luas 15 ha, dengan tata ruang mengadopsi
kebudayaan Jawa. Selanjutnya, wilayah ini diberi nama Jayakarta, bahkan diklaim
menjadi cikal bakal kota terbesar di Indonesia ini.
1. Tahun 1635 kota
Batavia mengalami perluasan hingga ke bagian barat dari sungai Ciliwung. Dengan
arsitektur bergaya Belanda dilengkapi dengan Benteng Kasteel khas Batavia,
kanal dan dinding kota, Batavia semakin memukau saat itu)
2. Abad ke 16 tepat pada
tahun 1619, menjadi target VOC dibawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen. Beberapa
waktu kemudian tepatnya pada tahun 1620 Jayakarta resmi berganti nama menjadi
Batavia. Nama tersebut diberikan guna menghormati leluhur bangsa Belanda yang
bernama Batavieren. Kota Batavia berpusat di sebelah timur Sungai Cilwung yang
saat ini dikenal dengan Lapangan Fatahillah. Batavia memiliki penduduk lokalnya
yang sampai sekarang masih eksis yaitu suku Betawi, yang dulunya disebuut
sebagai Batavianen. Betawi berasal dari berbagai etnis khususnya etnis kreol
yang menghuni pemukiman Batavia kala itu.
3. Pada awalnya maksud
kedatangan para saudagar ini adalah menukar rempah-rempah, namun ternyata
berubah menjadi pengalihan kekuasaan saat hubungan kurang baik terjadi antara
Belanda dengan Jayawikarta.
4. Kemenangan Demak yang
kemudian mengubah nama menjadi Jayakarta kemudian memasuki ranah baru yaitu
menjadi bagian dari Kesultanan Banten. Dibawah kekuasaan Kasultanan Banten
Jayakarta menjadi kota tujuan para saudagar dari Belanda khususnya yang berada
dibawah pimpinan Cournelis de Houtman.
5. Pada awalnya lokasi
ini dikenal sebagai dermaga Sunda dengan letaknya yang sangat strategis serta
makmur. Apalagi di dermaga ini merupakan tempat yang sangat tepat untuk
penjualan rempah-rempah khas Sunda yang memang masyarakatnya bekerja sebagai
petani rempah. Pada abad ke 14 pelabuhan ini dianggap sebagai pelabuhan penting
bagi beberapa kerajaan di nusantara. Bahkan terdengar bahwa bangsa Portugis
ingin menguasai wilayah ini, hingga hal tersebut didengar oleh Kerajaan Demak yang
mengirimkan Fatahillah mencegah kekuasaan Portugis saat itu.
6. Pada Tahun 1650, kota Batavia dijadikan sebagai pusat pemerintahan oleh VOC
dan mengalami lagi perluasan menuju selatan setelah munculnya wabah tropis
akibat sanitasi yang buruk.
7. Pada tahun 1870 perluasan tersebut memaksa sebagian warganya keluar dari
kota kecil tersebut dan berpindah ke kawasan Weltevreden yang saat ini dikenal
dengan lapangan Merdeka. Pada tahun ini pula Batavia menjadi kawasan pusat
pemerintahan Hindia Timur Belanda.
8. Tahun 1942 dibawah
kepemimpinan Jepang, Batavia berganti nama menjadi Jakarta hingga saat ini dan
dijadikan sebagai ibu kota Indonesia. )
9. Kota Tua Jakarta resmi dijadikan sebagai situs warisan pada dekrit yang
dikeluarkan Gubernur Jakarta pada masa itu Ali Sadikin. Dengan adanya keputusan
tersebut maka bangunan serta arsitektur dari Kota Tua Jakarta wajib
dipertahankan.
Sekilas cerita : di sini lah kami bertemu kawan lama kita kane dan cony kita sudah lama
tidak bertemu dan akhirnya tuhan mempertemukan kami semua dengan
sepasang adik kakak ini,mereka datang dari negri england.
ikuti terus petualangan kami selanjutnya ya ????